Kamis, 06 November 2014

KELOMPOK 1
KONSEP DSAR MANAJENEN

A.  Pengertian Manajemen BK

Istilah manajemen berasal dari kata management dalam bahasa Inggris. Banyak pakar yang mengartikan istilah manajemen dalam berbagai versi. Namun pada prinsipnya manajemen memuat makna segala upaya menggerakkan individu atau kelompok untuk bekerja sama dalam mendayagunakan sumber daya dalam suatu system untuk mencapai tujuan.
Apabila diterapkan ke dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, maka manajemen bimbingan dan konseling adalah segala upaya atau cara yang digunakan kepala sekolah untuk mendaya gunakan secara optimal semua komponen atau sumber daya (tenaga, dana, sarana/prasarana) dan system informasi berupa himpunan data bimbingan untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam rangka mencapai tujuan.
Menurut Uman Suherman Manajemen juga diartikan sebagai keseluruhan aktivitas berupa proses mengadakan, mengatur, dan memanfaatkan sumber daya yang dianggap penting guna mencapai tujuan secara efektif dan efisie
B.  Tujuan dan Fungsi Manajemen BK
Tujuan manajemen Bimbingan dan Konseling ialah agar sistem Bimbingan dan Konseling di sekolah dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien untuk mencapai tujuan kegiatan bimbingan dan konseling, serta untuk menegakkan akuntanbilitas Bimbingan dan Konseling.
Pada dasarnya penerapan manajemen adalah untuk mempermudah pencapaian suatu tujuan.  (1)kepastian arah;  (2) memfokuskan arah;  (3) menjadi pedoman rencana dan keputusan;  (4)mempermudah pelaksanaan evaluasi terhadap kemajuan yang telah dicapai, termasuk mengidentifikasi factor penghambat dan penunjangnya.

    Menurut Uman Suherman Tujuan penerapan manajemen adalah untuk memepermudah pencapaian suatu tujuan. Sedangkan fungsi manajemen adalah memberikan alur aktivitas, penetapan posisi dan tanggung jawab setiap personel dalam menjalankan aktivitas organisasinya secara efektif dan efisien
C. Fungsi Manajemen Bk
  Fungsi utama manajemen.  Ada 4 fungsi utama dalam manajemen:

1.Perencanaan (Planning)
2. Pengorganisasian (Organizing) 3.Pengarahan (Actuating/Directing)
4.Pengawasan (Controlling). Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian salah satunya adalah:
·     Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
B. Fungsi Operasional dalam Manajemen
Manajemen organisasi bisnis dapat dibedakan menjadi fungsi-fungsi :
1. Manajemen Sumber Daya Manusia 2. Manajemen Pemasaran 3. Manajemen Operasi/Produksi 4. Manajemen Keuangan 5. Manajemen Informasi
1. Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah.
2. Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan
3. Manajemen Produksi
Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi
4. Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan
5.Manajemen Informasi
Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Dalam proses konseling, seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukan perilaku secara efektif, baik perilaku verbal maupun non verbal. Secara umum seperti telah disebutkan di atas, prinsip-prinsip manajemen meliputi perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).





Kelompok 2
 manajenen BK

A.    Implementasi Fungsi Manajemen Dalam Bimbingan dan Konseling

Implementasi fungsi manajemen bimbingan dan konseling maksudnya adalah pelaksanaan atau penerapan fungsi manajemen dalam bimbingan dan konseling. Manajemen diartikan sebagai keseluruhan aktivitas berupa proses mengadakan, mengatur, dan memanfaatkan sumber daya yang dianggap penting guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen bimbingan dan konseling adalah proses kerjasama yang didalamnya ada perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan  pengawasan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling itu sendiri dalam pemberian layanan kepada individu yang membutuhkan.. Tujuan penerapan manajemen adalah untuk memepermudah pencapaian suatu tujuan. Sedangkan fungsi manajemen adalah memberikan alur aktivitas, penetapan posisi dan tanggung jawab setiap personel dalam menjalankan aktivitas organisasinya secara efektif dan efisien.. Karena itu dalam keseluruhan aktivitas layanan birnbingan dan konseling seorang manajer (konselor) perlu memperhatikan dan mendayagunakan sumber-sumber seperti: 1. Manusia . 2Material .3Alat dan Fasilitas .4 Waktu. 5 Keuangan. 6 Pemasaran

B.     Prinsip-prinsip Perencanaan Bimbingan dan Konseling
  
     Dewasa ini substansi layanan bimbingan dan konseling bagi peserta didik di sekolah adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, Muro dan Kottman (1995:50-53)  mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling perkembangan adalah bimbingan dan konseling yang di dalamnya mengandung prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :

1.      Bimbingan dan Konseling diperlukan oleh seluruh siswa. 
2.      Bimbingan dan konseling perkembangan memfokuskan pada pembelajaran siswa. Sekolah saat ini membutuhkan tenaga-tenaga spesialis.
3.      Guru pembimbing (konselor) dan Guru adalah fungsionaris bersama dalam program bimbingan dan konseling perkembangan.
4.      Kurikulum yang diorganisasikan dan direncanakan
5.      Bimbingan dan konseling perkembangan memfokuskan pada proses mendorong perkembangan. Metode mendorong (encouragement).
6.      Suatu proses “menjadi”. Sehingga pertumbuhan fisik dan psikologisnya memiliki berbagai kemungkinan sebelum mencapai masa dewasa. Oleh karenanya pengembangan yang terarah adalah sesuatu yang lebih penting.
7.      Bimbingan dan konseling perkembangan sebagai “teamoriented” menuntut pelayanan konselor yang professional. Keberhasilan bimbingan dan konseling perkembangan memerlukan upaya bersama seluruh staf disekolah.
8.      Bimbingan dan konseling perkembangan peduli dengan identifikasi awalakan kebutuhan – kebutuhan khusus siswa. Guru pembimbing (konselor) bekerjasama dengan guru untuk menemukan kebutuhan siswa, yang jika tidak terpenuhi akan menjadi kendala dalam kehidupan siswa berikutnya.  Melakukan pendekatan dengan siswa baik secara individual maupun kelompok.
9.      Bimbingan dan konseling perkembangan peduli dengan penerapan psikologi. Guru pembimbing (konselor) perkembangan tidak sekedar peduli pada “assessment” kemampuan anak untuk belajar, melainkan pada penerapan psikologi pada bagaimana anak menggunakan kemampuannya.

10.  Bimbingan dan konseling perkembangan memiliki kerangka dasar psikologi anak, psikologi perkembangan, dan teori belajar

11.  Bimbingan dan konseling perkembangan memiliki sifat mengikuti urutan dan lentur. Dalam implementasinya, bimbingan dan konseling perkembangan mengikuti urutan, artinya program bimbingan dan konseling perkembangan dirancang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, dan lentur dalam arti program hendaknya disesuaikan dengan perbedaan individual.
.

C.   Konsep Dasar Pengorganisasian Dalam Bimbingan dan Konseling
1.      Pengertian Organisasi Bimbingan dan Konseling

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1998) kata organisasi berarti, “kesatuan (susunan, dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang, dan sebagainya) di dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu.”; atau “kelompok kerja sama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama”. Dengan demikian, apa yang dimaksudkan dengan organisasi bimbingan adalah sama dengan mengorganisasi bimbingan, dimana kata mengorganisasi menurut KBBI berarti :” mengatur dan menyusun bagian-bagian (orang, dan sebagainya) sehingga seluruhnya menjadi suatu kesatuan yang teratur.

2.      Manfaat Pengorganisasian
Mengikuti atau menjadi bagian dari sebuah organisasi mempunyai dampak sangat besar untuk kehidupan, karena dalam sebuah organisasi bisa di ibaratkan sebagai masyarakat dalam lingkup kecil.. Selain itu beberapa manfaat lain yang bisa diperoleh dalam sebuah organisasi antara lain:
1.      Tercapainya sebuah tujuan .2 Melatih mental bicara di publik. 3 Mudah memecahkan masalah.Selain hal-hal diatas, masih banyak manfaat organisasi yang bisa diperoleh, namun disini tidak dijabarkan lebih lanjut. Hal lain yang bisa kita dapatkan antara lain :
1.      Melatih leadership. 2 Memperluas pergaulan. 3 Meningkatkan wawasan dan pengetahuan .4 Membentuk karakteristik seseorang. 5 Kuat dalam menghadapi tekanan. 6 Mampu mengatur waktu dengan sangat baik. 7 Sebagai ajang mempelajaran kerja yang sesungguhnya
3        Tujuan Pengorganisasian
Organisasi sangat mempengaruhi kinerja dari organisasi dan untuk menjaga kaderisasi anggota. Kaderisasi bertujuan untuk menjaga sebuah organisasi tetap bertahan dan eksis dalam jangka waktu yang panjang.

Kelompok 3
Evaluasi program , proses dan hasil bimbingan dan kosling

PENGERTIAN SISTEM  MANAJEMEN DAN AKUNTABILITAS PROGRAM
Sistem informasi keseluruhan tidak hanya terdapat dalam Sistem informasi manajemen, karena tidak semua informasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis. Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem komputer.
1.      PENGERTIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sistem informasi Manajemen yaitu serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah. Sistem informasi manajemen di dalam perancangan, penerapan dan pengoperasiannya sangat mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang..

2.      PENGERTIAN AKUNTABILITAS PROGRAM
Istilah akuntabilitas berasal dari istilah dalam bahasa Inggris accountability yang berarti pertanggunganjawab atau keadaan untuk dipertanggungjawabkan atau keadaan untuk diminta pertanggunganjawaban. Akuntabilitas (accountability) yaitu berfungsinya seluruh komponen penggerak jalannya kegiatan perusahaan, sesuai tugas dan kewenangannya masing-masing. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggung jawabannya. Akuntabilitas terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada masyarakat.
Pengertian akuntabilitas menurut Lawton dan Rose dapat dikatakan sebagai sebuah proses dimana seorang atau sekelompok orang yang diperlukan untuk membuat laporan aktivitas mereka dan dengan cara yang mereka sudah atau belum ketahui untuk melaksanakan pekerjaan mereka. Akuntabilitas sebagai salah satu prinsip good corporate governance berkaitan dengan pertanggungjawaban pimpinan atas keputusan dan hasil yang dicapai, sesuai dengan wewenang yang dilimpahkan dalam pelaksanaan tanggung jawab mengelola organisasi. Aspek yang terkandung dalam pengertian akuntabilitas adalah bahwa publik mempunyai hak untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pihak yang mereka beri kepercayaan.

PENGERTIAN EVALUASI
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978:5). Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncankan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudain dicoba membuat suatu keputusan..Definisi yang lebih luas dikemukakan oleh Cronbach dan Stufflebean, yang menyatakan bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan (Arikunto, 2006).
Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai. Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif  hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.
Anne Anastasi (1978)  mengartikan evaluasi sebagai ‘a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils’. Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas. Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa evaluasi pendidikan adalah proses memperoleh informasi berdasarkan fakta yang ada dan dilanjutkan ke proses analisis sampai pada penenetuan keputusan. Evaluasi juga diartikan sebagai kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai, sampai di manakah tujuan yang telah dirumuskan sudah dapat dilaksanakan. Menurut W.S. Winkel, (1991: 135), menjelaskanevaluasi program bimbingan adalah mencakupusaha menilai efisiensi dan efektifitas pelayananbimbingan itu sendiri demi peningkatan mutuprogram bimbingan.
Dewa Ketut Sukardi (1990: 47) menyatakan evaluasipelaksanaan program bimbingan dan konseling disekolah dimaksudkan adalah segala upaya tindakanatau proes untuk menentukan derajat kualitaskemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaanprogram bimbingan dan konseling di sekolah denganmengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentusesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.  

A.    TUJUAN EVALUASI
     Evaluasi pendidikan memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:1.Menilai ketercapaian (attainment) tujuan. 2 Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi. 3 Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui. 4 Memotivasi belajar siswa. Evaluasi juga harus dapat memotivasi belajar siswa. 5 Men yediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling. 6 Menjadikan hasil evolusi sebagai dasar perubahan kurikulum
   B FUNGSI EVALUASI
Manfaat dan fungsi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Jika suatu kegiatan berfungsi dengan baik, maka diharapkan akan mendatangkan manfaat yang besar. Sebaliknya, bila suatu kegiatan tidak berfungsi dengan baik, maka kebermanfaatan  yang akan diperoleh pun akan berkurang. Agar evaluasi yang kita jalankan mendatangkan manfaat yang besar, maka terlebih dahulu akan disampaikan fungsi dari evaluasi pendidikan, baik secara umum ataupun khusus.  
    C  PRINSIP – PRINSIP EVALUASI
  1. Prinsip Keterpaduan. 2 Prinsip keterlibatan siswa 3 Prinsip koherensi 4 Prinsip pedagogis
  1. Prinsip Akuntabilitas
  KELOMPOK 4
EVALUASI PROGRAM , PROSES DAN HASIL BIMBINGAN DAN KONSELING

Prosedur Pelaksanaan Evaluasi Program Bimbingan Konseling
1. Fase persiapan
2. Fase persiapan alat / instrument evaluasi
3. Fase pelaksanaan kegiatan evaluasi
4. Fase menganalisis hasil evaluasi
5. Fase penafsiran atau interprestasi dan pelaporan hasil evaluasi
     Pada fase ini dilakukan kegiatan membandingkan hasil analisis data dengan kriteria penilaian keberhasilan & kemudian diinterprestasikan dng memakai kode-kode tertentu, untuk kemudian dilaporkan serta digunakan dalam rangka perbaikan dan atau pengembangan program layanan Bimbingan Konseling.
A Lingkungan dan Aspek Evaluasi.
   
      Dalam lingkuan kebijakan diakenal ada dua bagian yaitu lingkungan Internal dan lingkungan eksternal. Dimana dari kedua lingkungan tersebut mempengaruhi kebijakan publik. Hal tersebut sependapat dengan Anderson dalam putri (2010) yang menyatakan Perumusan kebijakan dalam prakteknya akan melibatkan berbagai aktor, baik yang berasal dari aktor negara maupun aktor non negara, sebagai pembuat kebijakan resmi (official policy-makers) dan peserta non pemerintahan (nongovernmental participants).

1.      Lingkungan Internal  2.      Lingkuangan Ekternal
    
  Evaluasi Lingkungan Kebijakan
     Setelah mengetahui tentang pengertian masing-masing konsep yang menyusun evaluasi lingkungan kebijkan, disini kita akan membahas tentang evalusi lingkungan kebijakan secara utuh. Evaluasi lingkungan kebijakan merupakan pengukuran kondisi atau penilaian terhadap sesuatu dalam hal ini yaitu lingkungan setelah meneliti setiap variabel yaitu lingkungan internal dan eksternal tersebut sejauh mana dalam mempengaruhi suatu kebijkan tersebut. Jadi evaluasi lingkungan kebijakan adalah cara yang digunakan oleh seorangan peneliti untuk melihat

Metode Evaluasi
     Sangat di sayangkan apabila cara penilaian dengan model pembelajaran inovaif dilakukan dengan biasa-biasa saja,karena jika dengan cara tersebut cenderung hanya mengukukr kemampuan kognitif siswa saja dan terkadang dengan hasil tes yang tidak murni (menyontek- ).pedahal dalam pembelajaran inovatif siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses belajar
     Menurut sudjana (1990 : 31 ) evaluasi adalah proses pemberian atau menentukan nilai kepada objek tertentu,sedangkan menurut Rusli (1990:22), bahwa yang dimaksud evaluasi adalah “ suatu proses sistematik untuk menentukan sampai beberapa jauh tujuan intruksional dapat dicapai oleh siswa dari uraian diatas maka evaluasi mengandung dua aspek yang penting yaitu :
a.    Dalam evaluasi terdapat suatu proses sistematik untuk mengukur apakah siswa dapat mendiagnosa,menyeleksi dan menyelesaikan suatu pekerjaan.
b.   Evaluasi digunakan untuk mengukur,menilai pencapaian tujuan keberhasilan dan kerja atau usaha guru.

B. TUJUAN
     Metode evaluasi hasil belajar bertujuan mengukur dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik selama masa studinya. Adapun tujuan metode evaluasi secara lebih spesifik adalah sebagai berikut :
1.      Feedback untuk peserta didik,  2. Feedback untuk guru, fungsi evaluasi terpenting bagi pengajar adalah untuk menilai seberapa efektifkah pembelajaran yang telah ia laksanakan 3. Informasi untuk orang tua, hasil dari tes yang telah dilaksanakan peserta didik menghasilkan skor yang dapat menggambarkan kemampuan mereka terhadap materi. 4. Informasi untuk seleksi, 5. Informasi untuk akuntabilitas.6.   Evaluasi sebagai insentif, maksudnya evaluasi dapat berfungsi sebagai hadiah atas segala usaha yang telah dilakukan oleh peserta didik.

Sumber Data

     Sumber data adalah subjek dari mana data dapat  di peroleh. Apabila peneliti menggunakan kuensioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya,maka sumber data di sebut responden,yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaa-petanyaan peneliti,baik pertanyaan tertulis maupun lisan.Sumber data berupa responden ini di pakai dalam penelitian kuantitatif .Sedangkan sumber datadalam penelitian  kualitatif,posisi narasumber sangat penting,bukan hanya sekedar memberi respon mmelainkan juga sebagai pemilik informasi.karena itu informan(orang yang member informasi,sumber informasi,sumber data)atau di sebut subjek yang di teliti,karena ia bukan saja sebagai sumber data,melainkan juga aktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya suatu penelitian berdasarkan informasi yang di berikan.
Imam Suprayogo mengemukakan bahwa jenis sumber data terutama dalam  penelitian  penelitian kualitatif dapat di klasifikasikan sebagai berikut: 1 Narasumber (Informan)Peristiwa atau aktivitas.4 Tempat atau lokasi 5 Dokumen

A Kriteria Evaluasi

     Evaluasi atau penilaian berarti tindakan untuk menentukan nilai sesuatu. Dalam arti luas evaluasi adalah suatu proses dalam merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. 
Berkaitan dengan bimbingan dan konseling, maka yang dimaksusd dengan evaluasi  evaluasi bimbingan  dan konseling adalah  segala upaya, tindakan  atau proses untuk menentukan derajat kualitas  kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dengan mengacu pada criteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan dan konseling ( Juntika, 2005 :57)
Evaluasi merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan dan konseling. Tanpa evaluasi tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan program bimbingan dan konseling yang telah direncanakan. Evaluasi bimbingan dan konseling merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program  itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bhwa keberhasilan program dalam pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi  yang hendak dilihat melalui evaluasi.







Kelompok 5
Survae konseling
A Dasar dan makna Supervisi
Diartikan secara Etimologi, Supervisi berarti pengawasan, penilikan, pembinaan . Sedangkan secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik .
Supervisi bimbingan dan koseling  merupakan satu relasi antara supervisor dan konselor (supervisee) dimana supervisor (konselor senior)memberi dukungan dan bantuan untuk meningkatkan mutu kinerja profesional supervisee.
    Program kegiatan supervise bukan merupakan :  Konseling/psikoterapi,   Pemaksaan (imposing), Kritik negatif (negative criticism), Memperdayakan (disempoweri,  Pertemanan (friendship),  Mencari kesalahan (fault- finding),  Hukuman (funishment), dan  Untuk konselor yang baru (vovicecounselor)
1.      Arah dan Tujuan Supervisi Konseling
Adapun arah supervisi dalam program bimbingan adalah:
a.    Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personil bimbingan yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masingmasing
b.   Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personil bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
c.    Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan dan permasalahan-permasalahan yang ditemui.
d.   Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan.
2.      Tujuan Supervisi
a.    Meningkatkan kompetensi professional konselor.
b.   Meningkatkan kesadaran dan identitas professional.
c.    Mendorong perkembangan pribadi dan professional.
d.   Mempromosikan kinerja professional.
e.    Pemberian jaminan mutu terhadap praktek professional.
3.      Prinsip-prinsip Supervisi Konseling
Dalam prinsip Supevisi bimbingan dan penyuluhan dapat dibagi berdasarkan sifatnya yaitu prinsip secara umum dan khusus :
      1.  Prinsip umum  2.    Prinsip khusus
A. Kriteria Keberhasilan Konseling
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang.
Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila:
1.       Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
2.       Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
3.       Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
4.       Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
5.       Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
6.       Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif.
7.       Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
8.       Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.
9.       Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila:
10.   Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya.
11.   Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan.
12.   Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.

B.   Pendekatan dan alat Supervisi
Kata Pendekatan terdiri dari kata dasar dekat dan mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal, usaha atau perbuatan mendekati atau mendekatkan. Jadi Pendekatan Bimbingan dan Konseling adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor untuk mendekati kliennya sehingga klien mau menceritakan masalahnya.
Metode dalam pengertian harfiyah, adalah "jalan yang harus dilalui" untuk mencapai suatu tujuan, karena kata metode berasal dari meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Namun pengertian hakiki dari metode tersebut adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat peraga, administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan berlangsung, bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode juga dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan pandangan pelaksana metode, lingkungan yang menunjang suksesnya bimbingan dan cara-cara pendekatan dan pemahaman terhadap sasaran metode seperti wawancara, angket, tes psikologis, sosiometri dan lain sebagainya
·      Macam –macam  Pendekatan Konseling
Adapun macam-macam dari pendekatan konseling yaitu:
1. Pendekatan Rasional Emotif
2. Pendekatan Analisis Transaksional

C.    Hambatan dan masalah dalam evaluasi konseling
a.    Hambatan dalam Evaluasi Program Konseling. b Masalah Dalam Bimbingan dan Konseling


Kekompok 6

          Makna dan aspek profesionalisasi
Dari segi bahasa: Profesionalisasi berasal dari kata professionalization yang berarti kemampuan profesional. Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Profesionalitas merupakan sikap para anggota profesi benar2 menguasai, sungguh2 kepada profesinya. “Profesionalitas” adalah sutu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya beberapa Pengertian profesionalisas. Dedi Supriadi (1998) mengartikan profesionalisasi sebagai pendidikan prajabatan dan/atau dalam jabatan. Proses pendidikan dan latihan ini biasanya lama dan intensif. Menurut Eric Hoyle (1980) konsep profesionalisasi mencakup dua dimensi yaitu : …..the improvement of status and the improvement of practice”. Peningkatan status dan peningkatan,pelatihan.
Makna dan aspek profesionalisasi Bimbingan dan konseling

  1. Kompetensi Akademik Konselor
  2. Kompetensi Profesional Konselor Kompetensi profesional konselor mencerminkan penguasaan kiat penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling .
  3. kompetensi yang diperoleh melalui pendidian akademik yang telah diperoleh itu.

Ciri – ciri Profesi Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling adalah suatu profesi, karena BK memiliki ciri-ciri sebagaimana suatu profesi. Ciri-ciri Bimbingan dan Konseling, antara lain :
A.       Bimbingan dan Konseling dilaksanakan oleh petugas yang disebut GuruPembimbing Lulusan Pendidikan khusus Perguruan Tinggi.
B.        Merupakan pelayanan kemasyarakatan dan bersifat social
C.        Dalam melaksanakan kegiatan menggunakan teknik yang ilmiah.
D.       Ada pengakuan dari masyarakat/ pemerintah, bahwa BK dibutuhkan. E.        Memiliki organisasi profesi yaitu Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). F.         Memiliki kode etik Bimbingan dan Konseling sebagai pedoman bertindak.
Menurut Belkin, yang dikemukakan Prayitno menyempaikan lima pedoman yang hendaknya diikuti oleh guru pembimbing disekolah apabila ia berkehendak untuk diakui keprofesionalannya, yaitu :
1)       Konselor harus menampilkan diri sebagai konselor sekolah dengan program kerja yang jelas dan siap melaksanakan program tersebut.
2)      Konselor sekolah harus mempertahankan sikap professional.
3)      Konselor harus mampu memahami tanggung jawabnya sebagai konselor yang professional dan menerapkan parannya dalam kegiatan yang nyata.
         4 )      Harus memahami tanggungjawabnya kepada semua siswa.
         5)      Konselor harus memegang kuat komitmennya terhadap siswa-siswa.
 Pengembangan profesi bimbingan konseling
1. Standarisasi untuk kerja professional konselor
2. Standarisasi penyiapan Konselor
1.                 Kerjasama Bimbingan dan Konseling

Peranan Personil Sekolah dalam Pelayanan BK
Sebagai suatu sistim, maka peranan komponen-komponen dalam BK harus dituntut perannya untuk ikut bertanggung jawab secara moral dan material dalam menjalankan fungsi dan kegiatan pelayanan BK di sekolah.
Ø    Kepala Sekolah
1)      Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan BK merupakan suatu satu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.
2)      Menyediakan prasarana, tenaga, sarana, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan BK yang efektif dan efisien.
3)      Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan BK.
4)      Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan BK di sekolah kepada Kanwil/Kandep yang menjadi atasannya.
Ø    Wakil Kepala Sekolah
Sebagai pembantu Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah membantu Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas Kepala Sekolah.
Ø    Koordinator BK
1)      Mengkoordinasikan para guru pembimbing dalam : memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga sekolah, menyusun program kegiatan BK, melaksanakan program BK, mengadministrasikan program kegiatan BK, menilai hasil pelaksanaan program kegiatan BK serta menganalisis hasil tersebut, dan memberikan tindak lanjut terhadap analisis penilaian BK.
2)      Mengusulkan kepada Kepala Sekolah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga, prasarana dan sarana, alat dan perlengkapan pelayanan BK.
Ø    Guru Pembimbing
Ø    Guru Mata Pelajaran dan Guru Praktik
Ø    Wali Kelas


3 komentar: