KELOMPOK 1
KONSEP DSAR MANAJENEN
A. Pengertian Manajemen BK
Istilah manajemen berasal dari kata
management dalam bahasa Inggris. Banyak pakar yang mengartikan istilah
manajemen dalam berbagai versi. Namun pada prinsipnya manajemen memuat makna
segala upaya menggerakkan individu atau kelompok untuk bekerja sama dalam
mendayagunakan sumber daya dalam suatu system untuk mencapai tujuan.
Apabila diterapkan ke dalam pelayanan
bimbingan dan konseling di sekolah, maka manajemen bimbingan dan konseling
adalah segala upaya atau cara yang digunakan kepala sekolah untuk mendaya
gunakan secara optimal semua komponen atau sumber daya (tenaga, dana,
sarana/prasarana) dan system informasi berupa himpunan data bimbingan untuk
menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam rangka mencapai
tujuan.
Menurut Uman Suherman Manajemen juga
diartikan sebagai keseluruhan aktivitas berupa proses mengadakan, mengatur, dan
memanfaatkan sumber daya yang dianggap penting guna mencapai tujuan secara
efektif dan efisie
B. Tujuan dan Fungsi Manajemen BK
Tujuan manajemen Bimbingan
dan Konseling ialah agar sistem Bimbingan dan Konseling di sekolah dapat
berjalan dengan lancar, efektif dan efisien untuk mencapai tujuan kegiatan
bimbingan dan konseling, serta untuk menegakkan akuntanbilitas Bimbingan dan
Konseling.
Pada dasarnya penerapan
manajemen adalah untuk mempermudah pencapaian suatu tujuan. (1)kepastian arah; (2) memfokuskan
arah; (3) menjadi pedoman rencana dan keputusan; (4)mempermudah
pelaksanaan evaluasi terhadap kemajuan yang telah dicapai, termasuk mengidentifikasi
factor penghambat dan penunjangnya.
Menurut
Uman Suherman Tujuan penerapan manajemen adalah untuk memepermudah pencapaian
suatu tujuan. Sedangkan fungsi manajemen adalah memberikan alur aktivitas,
penetapan posisi dan tanggung jawab setiap personel dalam menjalankan aktivitas
organisasinya secara efektif dan efisien
C. Fungsi Manajemen Bk
Fungsi
utama
manajemen. Ada 4 fungsi utama dalam manajemen:
1.Perencanaan (Planning) 2. Pengorganisasian (Organizing) 3.Pengarahan (Actuating/Directing)
1.Perencanaan (Planning) 2. Pengorganisasian (Organizing) 3.Pengarahan (Actuating/Directing)
4.Pengawasan
(Controlling). Proses
yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah
direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai
dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam
lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.
Kegiatan dalam
Fungsi Pengawasan dan Pengendalian salah satunya adalah:
· Mengevaluasi
keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator
yang telah ditetapkan
B.
Fungsi
Operasional dalam Manajemen
Manajemen organisasi bisnis dapat
dibedakan menjadi fungsi-fungsi :
1. Manajemen
Sumber Daya Manusia 2.
Manajemen Pemasaran 3.
Manajemen Operasi/Produksi 4.
Manajemen Keuangan 5.
Manajemen Informasi
1. Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah
penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia
yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia
yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan
kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah.
2. Manajemen
Pemasaran
Manajemen Pemasaran adalah kegiatan
manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk
mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana
cara pemenuhannya dapat diwujudkan
3. Manajemen Produksi
Manajemen Produksi adalah penerapan
manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan
standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi
yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir
yang dihasilkan dalam proses produksi
4.
Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah kegiatan
manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan
bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis
yaitu diukur berdasarkan profit. yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat
dalam kegiatan bisnis yang dijalankan
5.Manajemen
Informasi
Manajemen Informasi adalah kegiatan
manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa
bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang.
Dalam proses konseling, seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukan
perilaku secara efektif, baik perilaku verbal maupun non verbal. Secara umum seperti telah
disebutkan di atas, prinsip-prinsip manajemen meliputi perencanaan (planing),
pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing), pengarahan dan
kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).
Kelompok 2
manajenen BK
A. Implementasi Fungsi Manajemen Dalam Bimbingan dan
Konseling
Implementasi
fungsi manajemen bimbingan dan konseling maksudnya adalah pelaksanaan atau
penerapan fungsi manajemen dalam bimbingan dan konseling. Manajemen diartikan
sebagai keseluruhan aktivitas berupa proses mengadakan, mengatur, dan
memanfaatkan sumber daya yang dianggap penting guna mencapai tujuan secara
efektif dan efisien. Manajemen bimbingan dan konseling adalah
proses kerjasama yang didalamnya ada perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
dan pengawasan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling itu sendiri
dalam pemberian layanan kepada individu yang membutuhkan.. Tujuan
penerapan manajemen adalah untuk memepermudah pencapaian suatu tujuan.
Sedangkan fungsi manajemen adalah memberikan alur aktivitas, penetapan posisi
dan tanggung jawab setiap personel dalam menjalankan aktivitas organisasinya
secara efektif dan efisien.. Karena itu dalam keseluruhan
aktivitas layanan birnbingan dan konseling seorang manajer (konselor) perlu
memperhatikan dan mendayagunakan sumber-sumber seperti: 1. Manusia . 2Material .3Alat
dan Fasilitas .4 Waktu. 5 Keuangan. 6 Pemasaran
B. Prinsip-prinsip
Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Dewasa
ini substansi layanan bimbingan dan konseling bagi peserta didik di sekolah adalah
bimbingan dan konseling perkembangan. Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip bimbingan
dan konseling, Muro dan Kottman (1995:50-53) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling perkembangan
adalah bimbingan dan konseling yang di dalamnya mengandung prinsip-prinsip dasar
sebagai berikut :
1. Bimbingan
dan
Konseling
diperlukan
oleh
seluruh
siswa.
2. Bimbingan dan konseling perkembangan memfokuskan pada pembelajaran siswa. Sekolah
saat
ini
membutuhkan
tenaga-tenaga
spesialis.
3. Guru pembimbing (konselor) dan Guru adalah
fungsionaris
bersama
dalam program bimbingan
dan
konseling
perkembangan.
4. Kurikulum yang diorganisasikan
dan
direncanakan
5. Bimbingan dan konseling perkembangan memfokuskan pada proses mendorong perkembangan. Metode
mendorong (encouragement).
6. Suatu proses “menjadi”. Sehingga pertumbuhan fisik dan psikologisnya memiliki berbagai kemungkinan sebelum mencapai masa dewasa. Oleh karenanya pengembangan yang terarah
adalah
sesuatu yang lebih
penting.
7. Bimbingan dan konseling perkembangan sebagai “teamoriented”
menuntut
pelayanan
konselor yang
professional. Keberhasilan
bimbingan
dan
konseling
perkembangan
memerlukan
upaya
bersama
seluruh
staf
disekolah.
8. Bimbingan dan konseling perkembangan peduli dengan identifikasi awalakan kebutuhan – kebutuhan
khusus
siswa. Guru pembimbing
(konselor) bekerjasama dengan guru untuk
menemukan
kebutuhan
siswa, yang jika
tidak
terpenuhi
akan
menjadi
kendala
dalam
kehidupan
siswa
berikutnya.
Melakukan
pendekatan
dengan
siswa
baik
secara individual maupun
kelompok.
9. Bimbingan dan konseling perkembangan peduli dengan penerapan psikologi. Guru pembimbing (konselor) perkembangan
tidak
sekedar
peduli
pada “assessment” kemampuan
anak
untuk
belajar, melainkan
pada
penerapan
psikologi
pada
bagaimana
anak
menggunakan
kemampuannya.
10. Bimbingan dan konseling perkembangan memiliki kerangka dasar psikologi anak, psikologi
perkembangan, dan
teori
belajar
11. Bimbingan dan konseling perkembangan memiliki sifat mengikuti urutan dan lentur. Dalam implementasinya,
bimbingan
dan
konseling
perkembangan
mengikuti
urutan, artinya program
bimbingan dan konseling perkembangan dirancang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, dan lentur dalam arti program hendaknya
disesuaikan
dengan
perbedaan individual.
.
C.
Konsep Dasar
Pengorganisasian Dalam Bimbingan dan Konseling
1.
Pengertian
Organisasi Bimbingan dan Konseling
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1998) kata organisasi berarti,
“kesatuan (susunan, dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang, dan
sebagainya) di dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu.”; atau
“kelompok kerja sama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama”.
Dengan demikian, apa yang dimaksudkan dengan organisasi bimbingan adalah sama
dengan mengorganisasi bimbingan, dimana kata mengorganisasi menurut KBBI
berarti :” mengatur dan menyusun bagian-bagian (orang, dan sebagainya) sehingga
seluruhnya menjadi suatu kesatuan yang teratur.
2.
Manfaat
Pengorganisasian
Mengikuti atau menjadi bagian dari sebuah organisasi mempunyai
dampak sangat besar untuk kehidupan, karena dalam sebuah organisasi bisa di
ibaratkan sebagai masyarakat dalam lingkup kecil.. Selain itu beberapa manfaat
lain yang bisa diperoleh dalam sebuah organisasi antara lain:
1.
Tercapainya sebuah tujuan .2 Melatih mental bicara di publik. 3 Mudah memecahkan masalah.Selain hal-hal diatas, masih banyak
manfaat organisasi yang bisa diperoleh, namun disini tidak dijabarkan lebih
lanjut. Hal lain yang bisa kita dapatkan antara lain :
1.
Melatih leadership. 2 Memperluas pergaulan. 3 Meningkatkan wawasan dan
pengetahuan .4 Membentuk
karakteristik seseorang.
5 Kuat
dalam menghadapi tekanan.
6 Mampu
mengatur waktu dengan sangat baik.
7 Sebagai
ajang mempelajaran kerja yang sesungguhnya
3
Tujuan Pengorganisasian
Organisasi
sangat mempengaruhi kinerja dari organisasi dan untuk menjaga kaderisasi
anggota. Kaderisasi bertujuan untuk menjaga sebuah organisasi tetap bertahan
dan eksis dalam jangka waktu yang panjang.
Kelompok 3
Evaluasi program
, proses dan hasil bimbingan dan kosling
A PENGERTIAN SISTEM MANAJEMEN DAN AKUNTABILITAS
PROGRAM
Sistem informasi keseluruhan tidak hanya
terdapat dalam Sistem informasi manajemen, karena tidak semua informasi di
dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang
otomatis. Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem
komputer.
1. PENGERTIAN
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sistem
informasi Manajemen yaitu serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan
terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data
sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan
produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria
mutu yang telah ditetapkan.
Output
informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat
mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah. Sistem informasi manajemen di dalam
perancangan, penerapan dan pengoperasiannya sangat mahal dan sulit. Upaya ini
dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang..
2. PENGERTIAN
AKUNTABILITAS PROGRAM
Istilah
akuntabilitas berasal dari istilah dalam bahasa Inggris accountability yang
berarti pertanggunganjawab atau keadaan untuk dipertanggungjawabkan atau
keadaan untuk diminta pertanggunganjawaban. Akuntabilitas (accountability) yaitu
berfungsinya seluruh komponen penggerak jalannya kegiatan perusahaan, sesuai
tugas dan kewenangannya masing-masing. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai
kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk
mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat
menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggung jawabannya. Akuntabilitas terkait
erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian
hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada
masyarakat.
Pengertian
akuntabilitas menurut Lawton dan Rose dapat dikatakan sebagai sebuah proses
dimana seorang atau sekelompok orang yang diperlukan untuk membuat laporan
aktivitas mereka dan dengan cara yang mereka sudah atau belum ketahui untuk
melaksanakan pekerjaan mereka. Akuntabilitas sebagai salah satu prinsip good
corporate governance berkaitan dengan pertanggungjawaban pimpinan atas
keputusan dan hasil yang dicapai, sesuai dengan wewenang yang dilimpahkan dalam
pelaksanaan tanggung jawab mengelola organisasi. Aspek yang terkandung dalam
pengertian akuntabilitas adalah bahwa publik mempunyai hak untuk mengetahui
kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pihak yang mereka beri kepercayaan.
A PENGERTIAN
EVALUASI
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan,
memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat
alternatif-alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978:5). Sesuai dengan
pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan
suatu proses yang sengaja direncankan untuk memperoleh informasi atau data;
berdasarkan data tersebut kemudain dicoba membuat suatu keputusan..Definisi
yang lebih luas dikemukakan oleh Cronbach dan Stufflebean, yang menyatakan
bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai,
tetapi digunakan untuk membuat keputusan (Arikunto, 2006).
Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai setiap usaha
atau proses dalam menentukan nilai. Secara khusus evaluasi atau
penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data
kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.
Anne Anastasi (1978) mengartikan evaluasi sebagai ‘a
systematic process of determining the extent to which instructional
objective are achieved by pupils’. Evaluasi bukan sekadar menilai suatu
aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk
menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan
tujuan yang jelas. Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
evaluasi pendidikan adalah proses memperoleh informasi berdasarkan fakta yang
ada dan dilanjutkan ke proses analisis sampai pada penenetuan keputusan.
Evaluasi juga diartikan sebagai kegiatan atau proses untuk mengukur dan
selanjutnya menilai, sampai di manakah tujuan yang telah dirumuskan sudah dapat
dilaksanakan. Menurut W.S. Winkel, (1991: 135), menjelaskanevaluasi program
bimbingan adalah mencakupusaha menilai efisiensi dan efektifitas pelayananbimbingan
itu sendiri demi peningkatan mutuprogram bimbingan.
Dewa Ketut Sukardi (1990: 47) menyatakan evaluasipelaksanaan
program bimbingan dan konseling disekolah dimaksudkan adalah segala upaya
tindakanatau proes untuk menentukan derajat kualitaskemajuan kegiatan yang
berkaitan dengan pelaksanaanprogram bimbingan dan konseling di sekolah
denganmengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentusesuai dengan program
bimbingan yang dilaksanakan.
A.
TUJUAN EVALUASI
Evaluasi pendidikan
memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:1.Menilai ketercapaian (attainment)
tujuan. 2 Mengukur
macam-macam aspek belajar yang bervariasi. 3 Sebagai sarana (means) untuk
mengetahui apa yang siswa telah ketahui. 4 Memotivasi belajar siswa. Evaluasi
juga harus dapat memotivasi belajar siswa. 5 Men yediakan informasi
untuk tujuan bimbingan dan konseling. 6 Menjadikan hasil evolusi sebagai
dasar perubahan kurikulum
B FUNGSI
EVALUASI
Manfaat dan fungsi adalah dua hal
yang tidak bisa dipisahkan. Jika suatu kegiatan berfungsi dengan baik,
maka diharapkan akan mendatangkan manfaat yang besar. Sebaliknya, bila
suatu kegiatan tidak berfungsi dengan baik, maka kebermanfaatan yang akan
diperoleh pun akan berkurang. Agar evaluasi yang kita jalankan mendatangkan
manfaat yang besar, maka terlebih dahulu akan disampaikan fungsi dari
evaluasi pendidikan, baik secara umum ataupun khusus.
C PRINSIP – PRINSIP
EVALUASI
- Prinsip
Keterpaduan. 2 Prinsip
keterlibatan siswa 3 Prinsip koherensi 4 Prinsip pedagogis
- Prinsip
Akuntabilitas
KELOMPOK 4
EVALUASI PROGRAM , PROSES DAN HASIL BIMBINGAN DAN
KONSELING
A Prosedur Pelaksanaan Evaluasi Program Bimbingan Konseling
1. Fase
persiapan
2. Fase
persiapan alat / instrument evaluasi
3. Fase
pelaksanaan kegiatan evaluasi
4. Fase
menganalisis hasil evaluasi
5. Fase
penafsiran atau interprestasi dan pelaporan hasil evaluasi
Pada fase ini dilakukan kegiatan membandingkan hasil analisis data dengan
kriteria penilaian keberhasilan & kemudian diinterprestasikan dng memakai
kode-kode tertentu, untuk kemudian dilaporkan serta digunakan dalam rangka
perbaikan dan atau pengembangan program layanan Bimbingan Konseling.
A Lingkungan dan
Aspek Evaluasi.
Dalam
lingkuan kebijakan diakenal ada dua bagian yaitu lingkungan Internal dan
lingkungan eksternal. Dimana dari kedua lingkungan tersebut mempengaruhi
kebijakan publik. Hal tersebut sependapat dengan Anderson dalam putri (2010)
yang menyatakan Perumusan kebijakan dalam prakteknya akan melibatkan berbagai
aktor, baik yang berasal dari aktor negara maupun aktor non negara, sebagai
pembuat kebijakan resmi (official
policy-makers) dan peserta non pemerintahan (nongovernmental participants).
1. Lingkungan
Internal 2.
Lingkuangan
Ekternal
Evaluasi
Lingkungan Kebijakan
Setelah mengetahui tentang pengertian
masing-masing konsep yang menyusun evaluasi lingkungan kebijkan, disini kita
akan membahas tentang evalusi lingkungan kebijakan secara utuh. Evaluasi
lingkungan kebijakan merupakan pengukuran kondisi atau penilaian terhadap
sesuatu dalam hal ini yaitu lingkungan setelah meneliti setiap variabel yaitu
lingkungan internal dan eksternal tersebut sejauh mana dalam mempengaruhi suatu
kebijkan tersebut. Jadi evaluasi lingkungan kebijakan adalah cara yang
digunakan oleh seorangan peneliti untuk melihat
Metode
Evaluasi
Sangat di sayangkan
apabila cara penilaian dengan model pembelajaran inovaif dilakukan dengan
biasa-biasa saja,karena jika dengan cara tersebut cenderung hanya mengukukr
kemampuan kognitif siswa saja dan terkadang dengan hasil tes yang tidak murni
(menyontek- ).pedahal dalam pembelajaran inovatif siswa dituntut untuk lebih
aktif dalam proses belajar
Menurut sudjana (1990 : 31 ) evaluasi
adalah proses pemberian atau menentukan nilai kepada objek tertentu,sedangkan
menurut Rusli (1990:22), bahwa yang dimaksud evaluasi adalah “ suatu proses
sistematik untuk menentukan sampai beberapa jauh tujuan intruksional dapat
dicapai oleh siswa dari uraian diatas maka evaluasi mengandung dua aspek yang
penting yaitu :
a.
Dalam
evaluasi terdapat suatu proses sistematik untuk mengukur apakah siswa dapat
mendiagnosa,menyeleksi dan menyelesaikan suatu pekerjaan.
b.
Evaluasi
digunakan untuk mengukur,menilai pencapaian tujuan keberhasilan dan kerja atau
usaha guru.
B. TUJUAN
Metode evaluasi hasil belajar bertujuan
mengukur dan menilai proses dan hasil belajar peserta didik selama masa
studinya. Adapun tujuan metode evaluasi secara lebih spesifik adalah sebagai
berikut :
1.
Feedback untuk peserta didik, 2. Feedback untuk
guru, fungsi evaluasi terpenting bagi pengajar adalah untuk menilai seberapa
efektifkah pembelajaran yang telah ia laksanakan 3. Informasi untuk orang
tua, hasil dari tes yang telah dilaksanakan peserta didik menghasilkan skor
yang dapat menggambarkan kemampuan mereka terhadap materi. 4. Informasi
untuk seleksi, 5. Informasi untuk akuntabilitas.6. Evaluasi
sebagai insentif, maksudnya evaluasi dapat berfungsi sebagai hadiah atas segala
usaha yang telah dilakukan oleh peserta didik.
Sumber Data
Sumber data
adalah subjek dari mana data dapat di
peroleh. Apabila peneliti menggunakan kuensioner atau wawancara dalam
pengumpulan datanya,maka sumber data di sebut responden,yaitu orang yang
merespon atau menjawab pertanyaa-petanyaan peneliti,baik pertanyaan tertulis
maupun lisan.Sumber data berupa responden ini di pakai dalam penelitian
kuantitatif .Sedangkan sumber datadalam penelitian kualitatif,posisi narasumber sangat
penting,bukan hanya sekedar memberi respon mmelainkan juga sebagai pemilik
informasi.karena itu informan(orang yang member informasi,sumber
informasi,sumber data)atau di sebut subjek yang di teliti,karena ia bukan saja
sebagai sumber data,melainkan juga aktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya
suatu penelitian berdasarkan informasi yang di berikan.
Imam Suprayogo mengemukakan bahwa jenis sumber data
terutama dalam penelitian penelitian kualitatif dapat di klasifikasikan
sebagai berikut: 1 Narasumber (Informan) 2 Peristiwa
atau aktivitas.4 Tempat
atau lokasi 5 Dokumen
A Kriteria Evaluasi
Evaluasi atau penilaian berarti tindakan
untuk menentukan nilai sesuatu. Dalam arti luas evaluasi adalah suatu proses
dalam merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat
diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.
Berkaitan
dengan bimbingan dan konseling, maka yang dimaksusd dengan evaluasi
evaluasi bimbingan dan konseling adalah segala upaya,
tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan
kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di
sekolah dengan mengacu pada criteria atau patokan-patokan tertentu sesuai
dengan program bimbingan dan konseling ( Juntika, 2005 :57)
Evaluasi
merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan dan konseling.
Tanpa evaluasi tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi
keberhasilan pelaksanaan program bimbingan dan konseling yang telah
direncanakan. Evaluasi bimbingan dan konseling merupakan usaha untuk menilai
sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dengan kata lain bhwa keberhasilan program dalam pencapaian tujuan
merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat melalui evaluasi.
Kelompok 5
Survae
konseling
A Dasar
dan makna Supervisi
Diartikan secara
Etimologi, Supervisi berarti pengawasan, penilikan, pembinaan . Sedangkan
secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk pembinaan yang di
berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar
mengajar yang lebih baik .
Supervisi
bimbingan dan koseling merupakan satu relasi antara supervisor dan
konselor (supervisee) dimana supervisor (konselor senior)memberi dukungan dan
bantuan untuk meningkatkan mutu kinerja profesional supervisee.
Program kegiatan
supervise bukan merupakan : Konseling/psikoterapi, Pemaksaan (imposing), Kritik negatif (negative criticism), Memperdayakan (disempoweri, Pertemanan (friendship), Mencari kesalahan (fault- finding), Hukuman (funishment), dan Untuk
konselor yang baru (vovicecounselor)
1.
Arah dan
Tujuan Supervisi Konseling
Adapun arah
supervisi dalam program bimbingan adalah:
a.
Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para
personil bimbingan yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka
masingmasing
b.
Mengontrol adanya kemungkinan
hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personil bimbingan dalam melaksanakan
tugasnya masing-masing.
c.
Memungkinkan dicarinya jalan keluar
terhadap hambatan-hambatan dan permasalahan-permasalahan yang ditemui.
d.
Memungkinkan terlaksananya program
bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah
ditetapkan.
2. Tujuan
Supervisi
a. Meningkatkan
kompetensi professional konselor.
b. Meningkatkan
kesadaran dan identitas professional.
c. Mendorong
perkembangan pribadi dan professional.
d. Mempromosikan
kinerja professional.
e. Pemberian
jaminan mutu terhadap praktek professional.
3.
Prinsip-prinsip
Supervisi Konseling
Dalam
prinsip Supevisi bimbingan dan penyuluhan dapat dibagi berdasarkan sifatnya
yaitu prinsip secara umum dan khusus :
1. Prinsip umum 2. Prinsip
khusus
A. Kriteria
Keberhasilan Konseling
Sementara
itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa
kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang
terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan
kriteria jangka panjang.
Kriteria
keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila:
1.
Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya
masalah yang dihadapi.
2.
Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang
dihadapi.
3.
Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan
kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
4.
Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan
emosinya (emotion stress release).
5.
Peserta didik (klien) telah menurun penentangan
terhadap lingkungannya
6.
Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan
sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya
secara obyektif.
7.
Peserta didik (klien) mulai menunjukkan
kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan
secara sehat dan rasional.
8.
Peserta didik (klien) telah menunjukkan
kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap
lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah
diambilnya.
9.
Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang,
diantaranya apabila:
10.
Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan
dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan
usaha-usahanya.
11.
Peserta didik (klien) telah mampu menghindari
secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam
kesulitan.
12.
Peserta didik (klien) telah menunjukkan
sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara
akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang
efektif.
B. Pendekatan dan alat Supervisi
Kata Pendekatan
terdiri dari kata dasar dekat dan mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal,
usaha atau perbuatan mendekati atau mendekatkan. Jadi Pendekatan
Bimbingan dan Konseling adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor
untuk mendekati kliennya sehingga klien mau menceritakan masalahnya.
Metode dalam
pengertian harfiyah, adalah "jalan yang harus dilalui" untuk
mencapai suatu tujuan, karena kata metode berasal dari meta yang
berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Namun pengertian
hakiki dari metode tersebut adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk
mencapai tujuan yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat
peraga, administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan
berlangsung, bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk
metode juga dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan
pandangan pelaksana metode, lingkungan yang menunjang suksesnya bimbingan dan
cara-cara pendekatan dan pemahaman terhadap sasaran metode seperti wawancara,
angket, tes psikologis, sosiometri dan lain sebagainya.
·
Macam –macam Pendekatan
Konseling
Adapun macam-macam dari pendekatan
konseling yaitu:
1. Pendekatan Rasional Emotif
2. Pendekatan
Analisis Transaksional
C. Hambatan dan masalah dalam evaluasi
konseling
a.
Hambatan dalam Evaluasi Program Konseling. b Masalah Dalam Bimbingan dan Konseling
Kekompok
6
Makna
dan aspek profesionalisasi
Dari segi
bahasa: Profesionalisasi berasal dari kata professionalization yang berarti
kemampuan profesional. Profesionalisme
merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya
secara terus menerus. “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada
sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk
senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Profesionalitas merupakan sikap para anggota profesi benar2 menguasai,
sungguh2 kepada profesinya. “Profesionalitas” adalah sutu sebutan terhadap
kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat
pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan
tugas-tugasnya beberapa Pengertian profesionalisas. Dedi Supriadi (1998)
mengartikan profesionalisasi sebagai pendidikan prajabatan dan/atau dalam
jabatan. Proses pendidikan dan latihan ini biasanya lama dan intensif. Menurut
Eric Hoyle (1980) konsep profesionalisasi mencakup dua dimensi yaitu : …..the
improvement of status and the improvement of practice”. Peningkatan status dan
peningkatan,pelatihan.
Makna dan aspek profesionalisasi Bimbingan dan
konseling
- Kompetensi Akademik Konselor
- Kompetensi Profesional Konselor Kompetensi profesional konselor
mencerminkan penguasaan kiat penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling .
- kompetensi yang diperoleh melalui pendidian akademik yang telah
diperoleh itu.
Ciri
– ciri Profesi Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling adalah suatu profesi,
karena BK memiliki ciri-ciri sebagaimana suatu profesi. Ciri-ciri Bimbingan dan
Konseling, antara lain :
A. Bimbingan dan Konseling
dilaksanakan oleh petugas yang disebut GuruPembimbing Lulusan Pendidikan khusus
Perguruan Tinggi.
B. Merupakan pelayanan
kemasyarakatan dan bersifat social
C.
Dalam
melaksanakan kegiatan menggunakan teknik yang ilmiah.
D. Ada pengakuan dari
masyarakat/ pemerintah, bahwa BK dibutuhkan. E.
Memiliki
organisasi profesi yaitu Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). F.
Memiliki
kode etik Bimbingan dan Konseling sebagai pedoman bertindak.
Menurut Belkin, yang dikemukakan Prayitno menyempaikan lima pedoman yang
hendaknya diikuti oleh guru pembimbing disekolah apabila ia berkehendak untuk
diakui keprofesionalannya, yaitu :
1) Konselor harus menampilkan diri sebagai
konselor sekolah dengan program kerja yang jelas dan siap melaksanakan program
tersebut.
2) Konselor sekolah harus
mempertahankan sikap professional.
3) Konselor harus mampu
memahami tanggung jawabnya sebagai konselor yang professional dan menerapkan
parannya dalam kegiatan yang nyata.
4 )
Harus
memahami tanggungjawabnya kepada semua siswa.
5)
Konselor
harus memegang kuat komitmennya terhadap siswa-siswa.
Pengembangan profesi bimbingan konseling
1. Standarisasi untuk kerja professional konselor
2. Standarisasi penyiapan Konselor
1. Standarisasi untuk kerja professional konselor
2. Standarisasi penyiapan Konselor
1.
Kerjasama Bimbingan dan Konseling
Peranan Personil
Sekolah dalam Pelayanan BK
Sebagai
suatu sistim, maka peranan komponen-komponen dalam BK harus dituntut perannya
untuk ikut bertanggung jawab secara moral dan material dalam menjalankan fungsi
dan kegiatan pelayanan BK di sekolah.
Ø Kepala
Sekolah
1) Mengkoordinir
segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah, sehingga
pelayanan pengajaran, latihan, dan BK merupakan suatu satu kesatuan yang
terpadu, harmonis dan dinamis.
2) Menyediakan
prasarana, tenaga, sarana, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan
BK yang efektif dan efisien.
3) Melakukan
pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program,
penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan BK.
4)
Mempertanggungjawabkan
pelaksanaan pelayanan BK di sekolah kepada Kanwil/Kandep yang menjadi
atasannya.
Ø Wakil
Kepala Sekolah
Sebagai
pembantu Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah membantu Kepala Sekolah dalam
melaksanakan tugas-tugas Kepala Sekolah.
Ø Koordinator
BK
1)
Mengkoordinasikan para guru
pembimbing dalam : memasyarakatkan pelayanan BK kepada segenap warga sekolah,
menyusun program kegiatan BK, melaksanakan program BK, mengadministrasikan
program kegiatan BK, menilai hasil pelaksanaan program kegiatan BK serta menganalisis
hasil tersebut, dan memberikan tindak lanjut terhadap analisis penilaian BK.
2)
Mengusulkan kepada Kepala
Sekolah dan mengusahakan bagi terpenuhinya tenaga, prasarana dan sarana, alat
dan perlengkapan pelayanan BK.
Ø Guru
Pembimbing
Ø Guru
Mata Pelajaran dan Guru Praktik
Ø Wali
Kelas
makasih buat info nya...
BalasHapussaya jadi tau apa-apa saja prinsip-prinsip manajemen.
Thanks.... buat info nya ya
BalasHapussama2 mba wati
Hapus